Tampilkan postingan dengan label CLASSIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CLASSIC. Tampilkan semua postingan
Untuk meramaikan event Worthersee Tour 2015 yang akan berlangsung hingga 16 Mei 2015 mendatang, salah satu modifikator terkenal, Fred Bernhard, merilis karya terbarunya yang dituangkan ke sebuah Volkswagen T1 klasik. Oleh Fred, Volkswagen T1 yang merupakan generasi pertama dari Volkswagen Type 2 ini dijuluki “VW T1 Race Taxi”.





Secara spesifikasi, Volkswagen T1 ini sudah tidak perawan lagi alias sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Dari sisi sumber tenaga, Volkswagen T1 berkelir abu-abu putih ini telah diberkahi mesin berpendingin udara yang diambil dari Porsche 993 dan ditunjang sepasang piranti turbo. Dengan begitu, tak heran jika kemudian mesin ini sanggup menghasilkan tenaga puncak hingga sekitar 523 hp dan torsi maksimum sebesar 757 Nm.








Untuk mengakomodir mesin sebesar ini, maka oleh Fred, Volkswagen T1 ini masih dipersenjatai lagi dengan transmisi manual 6 percepatan milik Porsche 996 GT3. Sedangkan untuk sistem kemudi dan pengeremannya, Volkswagen T1 ini masih mengdopsikan milik Porsche 993.





Selanjutnya supaya meningkatkan kestabilan Volkswagen T1 ini saat dikemudikan pada kecepatan tinggi, kemampuan sektor kaki-kaki pun ikut ditingkatkan. Oleh karenanya, Fred mengganti velg asli Volkswagen T1 ini dengan velg lebar berdiameter 18 inci keluaran BBS.








Sementara untuk mengurangi bobot Volkswagen T1 yang terkenal cukup berat, Fred mengakalinya dengan mensubstitusi sejumlah panel bodi asli Volkswagen T1 ini dengan yang berbahan serat karbon. Jadi setelah ditimbang, kini bobot total VW T1 Race Taxi yang dibangun selama 6 tahun ini hanya seberat 1.500 kilogram saja.


Pak De Bei pernah memiliki 1 unit Toyota Corona RT100 Deluxe lansiran 1976 berkondisi serba original dan sangat terawat, yang kemudian sekitar tahun 2012 silam sempat berpindah tangan kepemililikannya. Untungnya, Toyota Corona RT100 Deluxe berkelir hijau muda (apple green) ini hanya berpindah tangan ke salah satu teman Pak De Bei yang tinggal di Bandung, Jawa Barat dan kebetulan juga sesama penghobi mobil tua. Alasannya, ketika itu teman Pak De Bei itu sangat terkesan dengan karpet interior Toyota Corona RT100 Deluxe ini yang masih original dan sangat terawat. Lagian ketika itupun Pak De Bei tengah membutuhkan biaya demi menyambut Hari Raya Idul Fitri 2012.



Nah…pepatah “jika jodoh tak akan lari kemana” tadi seolah-olah langsung menjadi kenyataan ketika beberapa minggu lalu, Toyota Corona RT100 Deluxe bertransmisi manual ini akhirnya bisa kembali ke pangkuan Pak De Bei. Namun sayangnya kondisi Toyota Corona RT100 Deluxe ini sudah tidak lagi seoriginal sebelumnya. Tercatat ada beberapa penambahan dan perbaikan di tubuh Toyota Corona RT100 Deluxe ini.





“Saat menjelang Hari Raya Idul Fitri 2012 lalu, mobil ini sempat saya lepas ke rekan sesama penggemar mobil antik. Tapi tak disangka dan tak diduga menjelang Lebaran 2015 ini, Corona ini akhirnya bisa kembali ke garasi saya. Bedanya sekarang kondisinya sudah tidak 100 persen original standart pabrik,”







Pada eksteriornya, Pak De Bei menambahkan semacam side marker tempo dulu berbentuk tiang kecil. Side marker ini sengaja ditambahkan pada bagian depan-kiri demi menonjolkan kesan jadul pada tubuh Toyota Corona RT100 Deluxe berpintu 4 ini.







Terlebih lagi lampu-lampu, emblem-emblem, dan spion model tanduk asli bawaan mobil masih melekat diatas fender depan. Kontan saja nuansa retro atau jadul semakin terlihat jelas. Spion jenis ini lazim terlihat pada mobil-mobil yang diproduksi era 1970-an hingga 1980-an.





Perubahan juga terjadi pada sektor interior. Setir kemudi yang awalnya masih terasa berat diputar, kini sudah enteng digerakkan lantaran oleh pemilik sebelumnya, sistem kemudi Toyota Corona RT100 Deluxe ini sudah mengadopsikan piranti power steering.







Bagian kabin depan dekat tuas perseneling yang awalnya tampak kosong melompong, kini sudah terisi oleh konsol boks dan headunit yang merupakan aksesoris optional untuk Toyota Corona RT100 Deluxe pada masanya.





Tapi kalau dilihat secara keseluruhan, interior Toyota Corona RT100 Deluxe ini bisa dikatakan hampir seluruhnya masih original bawaan pabrik. Tengok saja panel-panel dan indikator-indikator pada dashboard, doortrim, plafon, hingga asbak bagi penumpang belakang yang terletak pada bagian belakang jok depan. Tak terkecuali sektor bagasi yang masih dilengkapi ban cadangan, kunci-kunci, dan dongkrak asli.





“Bedanya sekarang interiornya sudah ditambah power steering oleh kakak rekan saya di Bandung. Tetapi penambahan itu ada untungnya juga. Karena paska stroke ini saya ingin punya mobil yang enteng kemudinya untuk dinikmati. Hehehehe….,” jelas pria ramah yang tinggal di seputaran Bumi Serpong Damai ini.





Sementara untuk mesinnya, secara jujur Pak De Bei menginformasikan bahwa sumber tenaga Toyota Corona RT100 Deluxe ini belum pernah mengalami perombakan atau yang biasa disebut ‘turun mesin’. Tapi yang namanya penggantian beberapa ‘moving parts’ sudah pasti terjadi.





Lantas supaya tampilan ruang mesin terlihat lebih segar dan sesuai dengan apa yang tertera pada brosur resmi Toyota Corona RT100 Deluxe, Pak De Bei mengganti tabung reservoir berikut dengan cairannya dengan yang baru dan pastinya original. Kebetulan Pak De Bei memiliki stok barangnya.





Sebagai pelengkap, velg asli yang tadinya terlihat ‘telanjang’, kini sudah dilengkapi dengan dop original khusus Toyota Corona RT100 Deluxe. Lengkap juga dengan wheel hub model baling-baling yang mirip seperti yang digunakan pada mobil tempo dulu.





“Wheel hub baling-baling ini sengaja saya pasangi karena saya mau bagian velg-nya mobil ini terlihat mirip seperti velg Corona punya bapak saya. Waktu itu saya masih anak-anak,” ujar Pak De Bei seraya mengakhiri sesi wawancara.
Jeep Cherokee Chief keluaran 1977 ini langsung jadi perhatian publik saat pertama kali muncul di dunia maya. Jeep Cherokee Chief ini di lelang dengan penawar tertinggi hampir senilai $27.000. Jeep model ini merupakan produksi ke 49 dari Easter Jeep Safari.




Penampakan mobil ini semakin menggila dengan razor grille serta bumper chrome terlihat sangat klasik untuk Jeep Chief ini. Balutan warna Ocean Blue pada body menyempurnakan penampilan Jeep Chief untuk mobil keluaran tahun 70-an. Mark Allen, head design dari Jeep menyatakan bahwa warna ini merupakan keluaran baru dari Jeep pada masanya. Jeep Chief menggunakan velg klasik 17inch slotted-mag dengan ban ukuran 37inch sangat serasi dengan design mobil ini.



Seperti saudaranya Jeep Wrangler unlimited, konsep pintu dan kaca depan Jeep Chief memiliki cekungan pada handle pintu dan yang lebih menarik adalah tidak adanya handle pada bagian pintu belakang. Dengan tidak adanya pilar pada pintu belakang membuat jendela pada sisi belakang jadi terlihat lebih panjang.

Beranjak ke bagian interior yang mengusung konsep pantai di Hawaii, dengan jok yang berbalut kulit motif bunga-bunga bernuansa pink, biru dan putih yang ternyata terinspirasi dari ikon kemeja milik Tom Selleck yang dia kenakan pada filum Magnum PI.




Ya, sambil menikmati suasana pantai dengan secangkir minuman dingin akan membuat nuansa beach vibe dengan mobil ini.
Bagaikan seorang anak kecil baru saja menemukan mainan baru, kurang lebih seperti itulah kira-kira gambaran ketika kru klasik redaksi BosMobil.com berkunjung ke Hauwke Auto Gallery beberapa waktu silam.



Puluhan mobil klasik nan eksotis dari berbagai jenis dan tahun keluaran yang dipertontonkan di galeri khusus mobil klasik milik Hauwke Hartawan Setjodiningrat itu membuat kami penasaran akan asal-usul mobil-mobil tersebut. Salah satu yang menarik untuk diperhatikan yaitu Chevrolet Bel Air Convertible lansiran 1957 berikut ini.

Chevrolet Bel Air Convertible 1957 - Hauwke Hartawan Setjodiningrat

Sedan asal negeri Paman Sam ini meyimpan cukup banyak cerita. Selain sering dipampang di event klasik di Indonesia, seperti pameran mobil klasik OICCS, rupanya mobil ini sudah menjelajah ke beberapa daerah di Tanah Air, seperti Aceh, Bali, Lombok, Pulau Komodo, dan Manado. Namun yang paling mengagumkan yaitu sebuah perjalanan yang dilakukannya pada sekitar tahun 1995.

Chevrolet Bel Air Convertible 1957 - Hauwke Hartawan Setjodiningrat

Ketika itu, setelah menempuh perjalanan melintasi beberapa kota di pulau Kalimantan dan daerah Kuching, yang notabene termasuk ke dalam wilayah otoritas negara Malaysia, sedan beratap lipat ini akhirnya sukses menapakkan jejaknya di negara Brunei Darussalam. Wah...benar-benar sebuah jarak tempuh yang cukup jauh untuk sebuah mobil berusia lebih dari 50 tahun.

Chevrolet Bel Air Convertible 1957 - Hauwke Hartawan Setjodiningrat

Chevrolet Bel Air Convertible 1957 - Hauwke Hartawan Setjodiningrat

Sementara jika kita telusuri riwayat hidupnya, sedan setir kiri ini pertama kali ditemukan oleh Hauwke sekitar 1993 di kota Padang, Sumatera Barat-Indonesia dengan kondisi yang bisa dibilang sudah tak lagi layak jalan. "Bahkan mesinnya waktu itu juga sudah mati total. Jangankan untuk dipakai jalan, dihidupkan saja sudah tidak mau," ujar Laurent Setjodiningrat, putra ketiga dari Hauwke Hartawan Setjodiningrat.

Chevrolet Bel Air Convertible 1957 - Hauwke Hartawan Setjodiningrat

Namun setelah melewati proses restorasi selama kurang lebih 2 tahun lamanya, akhirnya kondisi fisik sang sedan dua pintu ini berhasil dikembalikan seperti semula. Setiap bagian eksterior dan interiornya di tata-ulang bentuk dan kelengkapan aksesoris pendukungnya demi mendapatkan tingkat originalitas yang maksimal. Sementara untuk sektor mesin, Hauwke sampai harus mendatangkan 1 unit mesin baru dan transmisi dari negara asalnya, Amerika Serikat, demi mendapatkan performa aslinya. Tapi dengan sedikit sentuhan modifikasi di sektor radiator, lantaran biar sanggup digunakan untuk touring jarak jauh.

Salut buat Hauwke Hartawan Setjodiningrat atas pencapaiannya...!

 SOURCE: BOSMOBIL.COM